Rabu, 22 September 2010

Anugrah ASD pada anak kami

Apa itu ASD? mendengarnya pun bagai mendengar petir di siang bolong, kata ASD lah yang menampar kondisi hati kami yang awalnya berbahagia karena dikaruniai seorang putri yang sedang lucu-lucu nya, namun di umur 11 bulan harus kembali ke pangkuan yang maha kuasa, ALLAH SWT.

Terkadang jika diingat kembali, memang paling enak mendengar jawaban dari ini semua adalah : TAKDIR, bahkan ucapan yang sering aku dengar dari rekan-rekan adalah.....tabungan, kelak anak yang meninggal di usia balita menjadi tabungan penolong orang tua nya di akhirat kelak.

Namun, jika kilas balik ke belakang, selalu muncul di dalam benakku selama setahun terakhir:
1. kenapa aku?
2. kenapa kami yang diberi kepercayaan mendapat titipan ini?
3. apa itu ASD?
4. bagaimana awal mulanya?
5. adakah kesalahan yang memang kami lakukan ketika masa kehamilan istriku?
6. apakah faktor makanan?
7. apakah virus penyebabnya?
8. apakah kondisi fisik dan psikologis istriku saat kehamilan?
9. apakah kekurangan gizi? atau kurang nya asupan nutrisi saat istriku hamil/
10. lalu apa pula trikustid displacement?
11. mengapa pertumbuhan jantung anakku tidak sempurna?
12. mengapa jantungnya besar sebelah? apa penyebabnya?
13. kenapa harus dioperasi?
14. kenapa semahal itu biaya nya?
15. kenapa kami harus menuruti keinginan dokter untuk membedah jantung anakku?
16. orang tua mana yang sanggup melihat tubuh mungil dan mulus anaknya harus menghadapi tajamnya pisau operasi?
17. mengapa akhirnya kami memutuskan untuk tidak mengoperasi?
18. mengapa kami memilih jalur alternatif?
19. mengapa pengobatan alternatif tidak membuat jantung anakku normal?
20. mengapa pertumbuhannya semakin mengkhawatirkan?
21. mengapa tubuhnya semakin lemah?
22. mengapa dia belum bisa tengkurap sendiri di umur 11 bulan?
23. mengapa dia belum bisa duduk sendiri di umur 11 bulan?
24. mengapa dia belum bisa berdiri sendiri di umur 11 bulan?
24. apakah ini pengaruh dari jantungnya?
25. mengapa seringkali dia susah menelan makanan, dan harus mengeluarkan lendir yang banyak dari mulutnya?
26. mengapa hampir 24 jam ia tidak pernah lepas dari menyusu ke ibunya?
27. apakah itu cara ia bertahan, disamping pertahanan/imunitas tubuhnya yang semakin menurun?
28. benarkah bilik kanan jantungnya semakin membesar? sementara serambi kanannya mengecil?
29. benarkah itu yang membuatnya susah bernafas?
30. benarkah itu yang membuatnya selalu rewel?
31. benarkah operasi itu satu-satu nya cara membuatnya tetap dapat hidup di dunia ini?
32. kalau operasi nya gagal gimana?
33. kalau organ babi yang harus ditanam di dalam jantungnya? siapa yang bisa mempertanggungjawabkannya kepada ALLAH SWT?
34. benarkah sekat jantungnya harus digeser?
35. akankah berhasil? sementara itu adalah anugrah yang DIA titipkan?
36. benarkah operasi jantung hanya satu-satunya jalan?
37. sementara biaya yang harus kami tanggung diperkirakan mencapai ratusan juta, darimana kami bisa mendapatkannya?
38. ada yang bilang, orang tua akan melakukan apapun demi kebaikan anaknya, sementara kami tidak mampu mendapatkan biaya untuk operasinya, kalaupun harus dioperasi?
39. salahkah kami yang tidak mampu menyediakan perawatan terbaik untuk nya di kala sakit?
40. salahkah aku yang mempunyai penghasilan cukup, sementara tidak mampu membiayai pengobatan anakku?
41. salahkah aku yang memilih alternatif, selain karena faktor biaya, lebih karena kami menganggap penderitaan yang akan dialami anakku lebih sedikit?
42. benarkah demikian?
43. apa dosa anak sekecil itu?
44. ataukah dosa kami?
45. mengapa aku tidak mendapatkan fasilitas kesehatan dari tempat ku bekerja?
46. yang dapat mengurangi beban pengobatannya?
47. mengapa aku disini?
48. mengapa aku harus menghadapi ini?mengapa aku yang dipilih?
49. mengapa ia harus pergi ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit dimana itu adalah usaha kami terakhir untuk memastikan nya mendapat perawatan terbaik?
50. mengapa harus ia yang menyetir?
51. kenapa tidak aku berinisiatif mengambil alih untuk menyetir, karena aku yakin dapat menyetir lebih cepat meskipun tergesa-gesa?
52. kenapa perjalanan kami menuju rumah sakit terasa begitu lama?
53. kenapa ada angkot yang mencoba menghalang-halangi kami ketika di lampu merah? yang akhirnya membakar emosiku untuk mengeluarkan caci maki kepada sopir angkot tsb?
54. mengapa aku melihatnya terakhir kali di lampu merah kiara condong?
55. mengapa saat tiba di IGD ia sudah tidak bernafas?
56. mengapa aku menangis sangat keras melepas kepergiannya?
57. mengapa itu terakhir kali aku melihatnya?
58. mengapa aku harus menggendongnya sampai cirebon, sementara itu adalah antaran terakhirku ke liang kuburnya?
59. mengapa aku harus berada di perumahan itu?
60. mengapa aku harus bertemu orang-orang itu?
61. orang2 yang entah darimana datangnya, dan merasa diri paling suci?
62. orang2 yang menganggap dirinya paling benar, mendustakan janji, dan menghancurkan harapan kami akan usaha kami untuk mendoakannya di 7 hari meninggalnya anakku?
63. mengapa ada anggapan seperti itu dari om ku yang katanya punya kekuatan supranatural?
64. mengapa aku ?
65. mengapa bukan yang lain?

pertanyaan itulah yang selalu mengelilingi otak dan kepalaku, hanya Allah yang mempunyai jawabannya, dan beberapa akhirnya aku temukan jawabannya dalam perjalananku. beberapa tidak bisa aku jawab.

benarkah itu anugrah? atau musibah karena kelalaian kami yang tidak bisa memberikan kasih sayang terbaik untuk anakku? Ya Allah cukuplah kami yang merasakan itu, semoga tidak engkau berikan cobaan yang sama kepada orang lain, terlebih lagi itu adalah anak pertama, dimana perasaan bahagia tidak bisa ditukar dengan apapun di dunia ini.

sedih, suka, senang, tangis, tawa, haru, iba, lelah, dan perasaan lain campur aduk dan kami rasakan selama setahun terakhir......aku yakin ini semua tidak lepas dari semua yang direncanakanNYA untuk mendidik hambaNYA yang dhaif dan hina ini.

IKHLAS? alhamdulillah pada posisi saat ini kami sudah ikhlas dengan keputusanNYA mengambil kembali ia ke pangkuanNYA. Aku belajar, bersyukur, dan bertafakur, atas semua yang telah ia gariskan untuk hambanya agar menjadi hamba yang lebih baik.





0 komentar: